Categories
Parenting

Agar Tak Capek Hati Cari Pengasuh

Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami, sung- guh pas untuk meng- gambarkan sulitnya kita saat harus mencari pengasuh. Padahal dengan bergesernya peran gender saat ini, keinginan para mama untuk berkiprah di dunia karier meningkat. Hal ini juga disambut positif oleh kebijakan dari berbagai institusi. Para mama, misalnya, diberikan fasilitas untuk bisa menikmati waktuwaktu pentingnya saat hamil dan sewaktu memiliki bayi, seperti diberi waktu cuti hamil dan tersedianya ruang khusus memerah ASI.

Baca juga : Tes TOEFL Jakarta

Masalahnya, setelah masa cuti usai, tak sedikit mama yang kesulitan mencari asisten rumah tangga atau pengasuh. Yang mau bekerja mungkin banyak, tetapi yang sesuai kriteria dan jujur itu yang sulit ditemukan. Soal kejujuran pengasuh, Erwanty Hasan, berbagi kisah di Fan Page nakita. “Waktu itu saya masih kerja. Pulang-pulang te tangga bilang kalau anak saya jatuh. Karena sudah malam saya enggak gitu perhatikan. Karena Abie terlihat baik-baik saja, saya pikir enggak apa-apa. Pas pagi nya, tetangga cerita lagi, katanya Abie kemarin jatuh masuk ke gorong-gorong yang airnya agak deras.

Waktu itu Abie usianya 4 tahun. Alhamdulillah, Abie masih rezeki saya. Orang-orang banyak yang menolong. Nah, pengasuh Abie tidak pernah cerita apa pun soal itu. Setelah kejadian ini, saya langsung resign. Alhamdulillah sekarang Abie sudah kelas 4.” Pengalaman tak mengenak kan juga pernah dialami Rina Aristyani Sasikirana, kali ini dengan asisten rumah tang ganya. “Pembantu saya membawa kabur motor dan hape saya. Dari situ saya putuskan menitipkan anak ke daycare. Daycare ternyata dapat membantu kemandirian anak saya. Mereka lebih bisa menghafal suratsurat kecil Alquran. Makannya pun terjamin.”

Fitriyani juga memilih menitipkan buah hatinya di Tempat Penitipan Anak (TPA) lantaran kesulitan mencari pe ngasuh. “Sudah 2,5 tahun saya cari pengasuh anak sulit banget…. Pernah ada, tapi enggak cocok. Karena enggak jujur dan enggak mendidik si kecil de ngan benar. Setiap harinya, dia lebih banyak nonton sinetron ketimbang fokus pada anak saya. Akhirnya saya putuskan untuk menitipkan anak saya di TPA.”

Sumber : pascal-edu.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *